Membangun Generasi Toleran

0
3

Membangun Generasi Toleran

Mahasiswa Pittsburgh Kagumi Toleransi Beragama di Indonesia

TRIBUNJATENG.COM — Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Pembudayaan karakter toleransi perlu ditumbuh kembangkan sedini mungkin untuk memperkokoh semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peranan strategis dalam menanamkan karakter toleransi pada peserta didik.

Sejarah telah membuktikan bahwa kebhinnekaan merupakan ciri utama bangsa Indonesia. Bumi nusantara ini dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku, adat istiadat, bahasa, agama, dan kepercayaan yang berbeda-beda. Kemerdekaan Indonesia dapat dicapai ketika para pejuang kemerdekaan berhasil membangun kebersamaan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika, semangat yang menjadikan kebhinnekaan sebagai kekuatan, bukan sebagai kelemahan.

Kemampuan untuk menjadikan kebhinnekaan sebagai kekuatan sangat diperlukan untuk membangun Indonesia yang maju, adil, sejahtera, dan demokratik. Apresiasi terhadap kebhinnekaan dapat diwujudkan dalam sikap saling menghargai dan menghormati diantara kelompok masyarakat yang berbeda dan hasrat untuk maju dan berkembang bersama.

Kurikulum pendidikan selalu mengalami penyempurnaan. Perkembangan dan perubahan kurikulum bertujuan untuk menyiapkan peserta didik agar mampu menghadapi tantangan zaman dan memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual dan sosial yang bermutu tinggi. Pemerintah telah menggalakkan penanaman 18 nilai pendidikan karakter bagi generasi muda. Meskipun bangsa kita saat ini sedang dirongrong menurunnya semangat persatuan dan kesatuan serta kurangnya kemampuan memahami keberagaman.

Pendidikan karakter di sekolah hendaknya membantu peserta didik keluar dari sikap eksklusif, diskriminatif, dan kecenderungan ingin menang sendiri. Peserta didik diajak menyadari bahwa kebhinnekaan merupakan sesuatu yang alami, artinya dimana pun seseorang berada dia akan berhadapan dengan kebhinnekaan dan tidak bisa menghindarinya. Oleh karena itu setiap orang perlu belajar untuk tumbuh dan berkembang bersama dalam kebhinnekaan.

Peserta didik dapat menunjukkan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Karakter toleransi tercermin dari kemampuan belajar mendengar, menghargai, menerima gagasan orang lain, bersikap terbuka, mematuhi kesepakatan, mengutamakan persatuan dan kesatuan, berupaya menjunjung tinggi sikap dan tutur kata, sopan, ramah dan sabar.

Di usia remaja, intelektualitas peserta didik mulai matang serta mampu menuangkan dan mempertahankan ide. Mereka tertarik pada aneka pemecahan masalah, mempertahankan argumen, dan memperjuangkan prinsip. Tidak jarang perbedaan-perbedaan cara pandang akan mengakibatkan ketegangan dan perselisihan. Menanamkan karakter toleransi dapat membuat peserta didik mengerti, memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada.

Dalam kehidupan bermasyarakat, peserta didik diharapkan mampu mempunyai kesadaran bahwa kedudukannya sejajar di hadapan Tuhan. Tidak perlu merasa sombong satu sama lain sehingga bisa menghargai keberagaman serta perbedaan sesamanya.

Penguatan karakter toleransi di sekolah diharapkan mampu menghasilkan peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya yang berintegritas. Indikator sekolah yang telah berhasil menanamkan karakter toleransi adalah interaksi sosial seluruh komunitas sekolah berjalan dengan santun, ramah, dan menyenangkan , dan makin berkembangnya perilaku pro-sosial seperti sikap solidaritas, kebiasaan saling membantu dan saling menghargai. Semoga.

#muslimsejai

sumber: tribunjateng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here