Meneladani Sang Nabi

0
2
Oleh Khairi Fuady
Istilah Sang Nabi semula populer dari karya seorang penyair legendaris asal Lebanon, Khalil Gibran. Dalam versi bahasa Inggris, bukunya bernama The Prophet. Bercerita tentang sosok Al-Musthafa yang mengembara ke sebuah kota bernama Orphalese dalam kurun waktu 12 tahun, dan mereguk tetes demi tetes hikmah dari pengembaraannya. Di Kota itu, ia bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Almitra, seorang anak yang tak bisa bicara sejak kepergian Ayahnya.
Sang Nabi pada tulisan ini juga Al-Musthafa, seorang pemuda yang lahir dari Klan Bani Hasyim di Tanah Arabia. Ia lah yang masyhur karena budi pekertinya, perangai elok nan memikat semua. Seorang yang dalam Sya’ir Maulid Ad Diba’i karya Al Imam Wajihuddin Abdurahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf  bin Ahmad bin Umar Ad Diba’i: “Kaana ahsanannaasi khuluqan wa khalqaa, sebaik-baik manusia dari segi akhlak dan juga rupa”. Dia lah Al-musthafa Muhammad SAW, yang ukiran cahaya namanya sudah lebih dulu terpahat di Surga, sebelum terciptanya Sang Adam juga Hawa.
Dialah teladan, panutan, juga obor yang menuntun kita kepada cahaya di atas segala cahaya, karena dia lah sejatinya cahaya. Fahtazzal ‘arsyu tharaban wastibsyaaraa. Arsy terguncang riang gembira. Wazdaadal kursiyyu haybatan wa waqaaraa. Kursi singgasana Allaah bertambah wibawanya. Wamtalaatis samaawaatu anwaaraa. Dan langit-langit bertambah terang kilau cahaya. Walam tazal ummuhuu taraa anwaa’an min fakhrihi wa fadhlih. Dan masih sahaja sang ibunda Aminah, menyaksikan rupa-rupa kemulyaan dan keutamaan. Ilaa nihaayati tamaami hamlih. Hingga berakhir masa kandungannya. Walammasytada bihat thalqu bi idzni rabbil khalq, dan ketika rasa sakit berada pada puncaknya dengan seizin Tuhan Sang Maha Pencipta, wadha’atil habiiba shallallaahu ‘alayhi wa salama saajidan syaakiran haamidan ka annahul badru fii tamaamih, lahirlah Sang Nabi shalllallaahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan bersujud, bersyukur, dan bertahmid laiknya rembulan dalam bentuknya yang purnama.
Demikianlah sya’ir Ad-diba’i bercerita tentang kelahiran Sang Nabi, yang bulan maulidnya tengah kita peringati sekarang ini. Amat pantas lah tentunya jika seorang pemikir Barat bernama Michael Hart menobatkan Sang Nabi sebagai the Most Influential People among 100, orang yang paling berpengaruh di antara seratus tokoh dunia yang bukunya sempat diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi, pendekar pena dari Tanah Batavia. Lalu pada soal apa kita bisa meneledani Sang Nabi?
Pertama, di tengah situasi kebangsaan yang semakin riuh dengan seteru dan perdebatan tak produktif, marilah meneladani Sang Nabi yang dalam Al-Qur’an disebutkan “Wamaa yanthiqu ‘anil hawaa in huwa illaa wahyun yuuhaa, tidak lah ia berbicara atas dasar hawa nafsunya, namun dituntun isyarat wahyu”. Artinya, mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman agar kita tak teperdaya oleh emosi dan hawa nafsu kita. Kadang perbedaan ideologi dan sikap politik membuat kita buta hati lalu saling mencaci, mencerca, dan seakan lupa bahwa kita satu bangsa. Kita menghardik, memvonis yang lain kafir dan munafik, hingga lupa mematut diri sendiri di depan cermin.
Kedua, tingkatkan empati. Dalam syair maulid disebutkan bahwa Nabi Muhammad itu “Idzaa da’aahul miskiin, ajaabahu ijaabatan mu’ajjalaa. Jika datang kepadanya seorang miskin, akan ia jawab dengan segera”. Di satu kesempatan Idul Fitri, Nabi keluar rumah untuk shalat ‘Id. Di tengah perjalanan ia mendapati anak-anak kecil bermain riang gembira. Namun di suatu sudut, ada seorang anak kecil menangis dalam keadaan lapar dan tak punya pakaian. Nabi bergegas menghampirinya, dan bertanya tentang apa gerangan penyebab tangisnya. Anak kecil tersebut menjawab bahwa ayahnya wafat di salah satu peperangan bersama Nabi, dan Ibunya menikah dengan lelaki lain hingga ia pun ditelantarkan sebatang kara. Nabi terenyuh dan tanpa pikir panjang ia angkat anak kecil tersebut menjadi anaknya. Ia bawa ke rumah lalu diberi makan dan pakaian hari raya.
Beruntunglah sang anak hinga membuat iri teman-temannya. Nabi Muhammad menjadi ayahnya, Aisyah menjadi ibunya, lalu Fatimah, Hasan, dan Husain menjadi saudara dan saudarinya. Karena itu di kesempatan yang lain Nabi bersabda: “Anaa ma’al yatiim kahaatayni, Aku bersama Yatim seperti dua jemari ini, jari telunjuk dan jari tengah,” yang artinya sangat dekat.
Ketiga, berkata lembut atau diam. Fal yaqul khayran aw liyashmut (al-hadits). Di tengah fenomena emosi anak bangsa yang kerap diselimuti oleh kemarahan, anjuran tentang kelembutan harus kembali digalakkan. Bahkan Nabi bersabda di kesempatan yang lain dengan kalimat “Laa taghdhab walakal jannah. Jangan marah, maka surga untukmu. Laa taghdhab walakal jannah. Jangan marah, maka surga untukmu. Laa taghdhab walakal jannah. Jangan marah makan surga untukmu”.
Alkisah sebagai penutup, ketika perang Khandaq, Sayyidina Ali Karramallaahu Wajhah ditantang duel oleh Amru bin abd Wad, seorang jawara dari Bani Quraish yang sangat ditakuti. Nabi Muhammad sempat khawatir lantaran usia Sayyidina Ali yang masih tergolong muda. Tapi ternyata duel tersebut berpihak kepada Ali. Amr tersungkur jatuh ketika Sayfu ‘Aliyyin/pedang Ali menyabet kaki Amr sang jawara Quraish.
Dalam keadaan jatuh, Amr meludah ke muka Ali hingga tersulut emosi Ali, dan amarahnya bergejolak. Namun tak disangka, Ali memilih mundur dan tak jadi membunuh Amr. Seorang sahabat bertanya; “Wahai Ali, kenapa tidak kau tebas saja kepalanya padahal kamu sangat memungkinkan melakukannya dalam keadaan Amr sedang tersungkur?”
Ali menjawab; “Ketika ia meludahiku, ketika itu pula emosiku tersulut. Jika aku membunuhnya, berarti aku membunuhnya atas emosiku, bukan atas perintah Allah”.
Inna fil qisshati la’ibrah. Dalam sebuah kisah terdapat ibrah: belalah agamamu, jangan bela emosimu. Agama membangun kehidupan, sedangkan emosi meruntuhkan.
Penulis adalah Ketua Pusat Syi’ar dan Dakwah Da’i Muda Al-Mahabbah
//www.nu.or.id/post/read/99051/meneladani-sang-nabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here