Perilaku Intoleran Dampak dari Kurangnya Ilmu

0
2

Perilaku Intoleran Dampak dari Kurangnya Ilmu

Silaturrahmi jaringan Gusdurian Bekasi RayaAbdul Muiz, NU Online | Ahad, 18 November 2018 19:30
Bekasi, NU Online
Jaringan Gusdurian Bekasi Raya diharapkan dapat mengubah wajah Bekasi yang dinilai sebagai daerah yang cukup tinggi perilaku intoleransinya.
Hal tersebut diungkapkan salah seorang tokoh agama Kabupaten Bekasi Ustadz Muhib Syadzili saat menghadiri peringatan Hari Toleransi Internasional yang diadakan Gusdurian Bekasi Raya, di Kantor PCNU Kabupaten Bekasi, pada Jumat (16/11) kemarin. “Mungkin intoleran itu diakibatkan karena kurangnya ilmu,” katanya.
Ia melanjutkan bahwa seorang sahabat karib Gus Dur, yakni Habib Muhammad Quraish Shihab ingin merekrut orang-orang yang suka mendapatkan beasiswa ke berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah.
“Saat itu tidak dites satu per satu. Hanya saja, mahasiswa yang ada di sana ditanya dalam sehari dapat meluangkan waktu selama berapa jam, ada yang menjawab satu hingga dua jam,” kata Ustadz Muhib.
Lalu, Habib Quraish yang saat itu menduduki jabatan sebagai Menteri Agama mengatakan bahwa dirinya sangat sibuk. Namun dalam sehari, tidak pernah lepas untuk membaca buku selama 8 jam.
Oleh karena itu, sudah dapat dipastikan jika ada orang yang kerap melakukan aksi intoleransi adalah mereka yang kurang ilmu. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki rasa toleransi yang tinggi maka punya ilmu yang sangat banyak.
Niatkan tabarukan ke Gusdur
Seorang Penulis Buku Keislaman, KH Agus Mustofa pernah menyampaikan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi adalah ja’ilun fi al-ardhi khalifah yang bertugas untuk mengatur keberlangsungan kehidupan di dunia.
“Kalau misalkan kita menindas orang yang lemah malah justru kita sendiri yang akan binasa,” kata Ustadz Muhib
Sebab, lanjutnya, orang-orang lemah yang tertindas itu lama-kelamaan akan membuat sebuah jaringan yang sangat kuat sehingga melakukan perlawanan. “Maka menindas orang-orang lemah itu merupakan perilaku bunuh diri,” kata Ustadz Muhib.
Sehingga untuk menjadi khalifah, haruslah memiliki rasa toleransi yang tinggi. Yakni sebuah sikap dalam menciptakan kehidupan yang damai, tenteram, dan tenang.
“(Karena) sesungguhnya toleransi itu adalah perintah Allah. Yakni yang termaktub dalam Al-Quran, surat Al-Hujurat ayat 13,” terangnya.
Bahwa Allah menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan. Itulah Nabi Adam dan Siti Hawa. Ayat ini menegaskan kepada manusia bahwa setiap orang di muka bumi ini adalah saudara.
“Sebab kita berasal dari satu rahim dan satu benih. Kemudian setelah itu Allah menjadikan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tujuannya adalah lita’arafu. Untuk saling mengenal satu sama lain. Ini (toleransi) adalah perintah Allah,” jelasnya.
Dalam kajian ushul fiqih, tambah Ustadz Muhib, asal hukum adalah wajib. Maka menjadi wajib hukumnya untuk saling mengenal kepada sesama saudaranya.
“Orang tidak mungkin bisa saling mengenal kalau tanpa toleransi. Ketika kita melakukan perbuatan yang toleran, maka saat itu kita sedang menjalankan perintah Allah yakni lita’arafu,” ucapnya.
Ayat tersebut mengingatkan manusia untuk bisa saling mengenal kepada siapa dan apa pun latar belakang seseorang. Inilah salah satu misi yang dibawa oleh Gus Dur.
“Maka itu marilah kita masuk ke dalam Jaringan Gusdurian dengan niat tabarukan kepada Gus Dur, meneladani sikap luhur beliau, dan juga bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain,” pungkasnya. (Aru Elgete/Muiz)
#muslimsejati
Sumber //www.nu.or.id/post/read/99093/perilaku-intoleran-dampak-dari-kurangnya-ilmu-
SHARE
Previous articleMeneladani Sang Nabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here