Santri Menjaga Indonesia dari Gerakan Kaum Islamis Jihadis

0
2

Santri Menjaga Indonesia dari Gerakan Kaum Islamis Jihadis

Ilustrasi istighotsah kubro NU Jatim (Foto: Antara)
Fathoni, NU Online | Senin, 29 Oktober 2018 07:05
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi
Hari Santri 2018 pada 22 Oktober telah berlalu, tetapi perayaan dan perdebatan mengenai hal tersebut masih terus berlangsung. Di beberapa daerah masih melaksanakan perayaan Hari Santri dengan berbagai bentuk kegiatan, mulai istighotsah, shalawatan, pawai sampai pentas seni religi. Selain itu perdebatan mengenai Hari Santri dan eksesnya juga masih berlangsung di media sosial.
Untuk menemukan spirit Hari Santri dengan berbagai peristiwa yang terjadi selama perayaan Hari Santri berlangsung kita perlu menggali berbagai makna yang ada di balik Hari Santri. Perayanaan Hari Santri terkait dengan peristiwa Resolusi Jihad yang dikumadangkan oleh KH Hasyim Asy’ari yang kemudian dianggap menjadi bara  pengobar semangat jihad para santri dan masyarakat melawan sekutu (Inggris) dan Belanda yang ingin kembali menjajah.
Ada beberapa makna penting di balik peringatan Hari Santri. Pertama, Hari Santri membongkar peran santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selama ini peran sejarah santri selalu “digelapkan”, tak pernah ditulis dalam sejarah. Penulisan sejarah Nasional selalu menonjolkan peran kaum modernis dan para tokohnya seperti Natsir, Sukiman, Bung Tomo, Masyumi, Hizbul Wathon dan kaum modernis lainnya (lihat Kahin, 2013; Anderson,  1988; MC. Rikleft, 2005; Malcolm Codwell dan Ernest Utrecht, 2011).
Dalam catatan para sejarawan internasional itu peran kaum santri terlihat hampir tidak ada, hanya disebut sambil lalu, menjadi subordinat dari gerakan kaum modernis. Dalam penulisan sejarah yang bias modern ini terjadi pengerdilan peran kaum santri. Misalnya ketika Mbah Hasyim menginisiasi Resolusi Jihad kemudian mendapat dukungan dari kelompok lain, maka yang besarkan adalah dukungan dari kelompok lain.
Berbagai langkah konsolidasi para kyai se Jawa yang menggerakkan masyarakat mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan tempat-tempat nyaris tidak ter-cover oleh sejarawan Barat Modern. Inilah yang menyebabkan Mu’arif menganggap Resolusi Jihad hanya masalah kecil, tidak penting, hanya mewakili kelompok kecil sehingga tidak layak ditulis dalam sejarah. (Lihat//www.suaramuhammadiyah.id/2016/11/10/catatan-t)
Melalui perayaan Hari Santri terjadi upaya penggalian sejarah untuk menyingkap peran sejarah santri yang selama ini tersimpan (atau sengaja disimpan) di balik lipatan sejarah. Dari sini muncul semangat menulis sejarah alternatif baik dari dalam yang dilakukan oleh sejarawan NU maupun dari luar (lihat Agus Sunyoto, 2013, Ahmad Baso, 2013; Abdul Mun’im, 2016, Zainul Milal Bizawie, 2014, Ahmad Ginanjar Sya’ban, 2017).
Dengan cara ini, narasi kecil sejarah santri yang selama ini dianggap tidak penting akan terangkat ke permukaan sehingga bisa menjadi sumber inspirasi untuk membangkitkan nasionalisme. Ini artinya Hari Santri menjadi pintu masuk diskusi akademik memgenai sejarah santri dan gerakan kebangsaan Indonesia.
Kedua, makna penting dari Hari Santri adalah kejelasan hubungan antara agama (Islam) dan faham Kebangsaan. Melalui Hari Santri yang berpijak pada peristiwa Resolusi Jihad maka menjadi tonggak bahwa hubungan antara Islam dan Kebangsaan sudaj final.
Dengan demikian secara implisit makna hari santri adalah peneguhan atas nasionalisme Indonesia sebagai cerminan dari spirit keislaman. Spirit ini tercermin dalam semboyan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari yang kemudian menjadi populer di kalangan umat Islam di Nusantara khususnya para santri.
Dengan spirit ini maka Hari Santri jelas mendapat tantangan dari kelompok yang anti terhadap nasionalisme. Hari Santri dianggap ganjalan dan batu sandungan bagi kelompok gerakan Islam transnasional yang masih menginginkan berdirinya negara Islam dan menjadikan Indonesia sebagai bagian imperium kekhalifahan Islam internasional.
Kelompok ini terus membenturkan antara nasionalisme dengan rezim khilafah Islam internasional. Dengan topeng agama dan atas nama Islam mereka melakukan gerakan merongrong NKRI dengan segala cara. Termasuk mengacaukan perayaan Hari Santri, karena bagi mereka Hari Santri merupakan momentum peneguham nasionalisme.
Jika Hari Santri sukses dan paham nasionalisme tertanan kuat di kalangan bangsa Indonesia maka perjuangan mereka membangun sistem khilafah di negeri ini akan gagal dan akan sulit dilakukan. Provokasi pengibaran bendera HTI di Garut bisa dibaca dari perspektif ini.
Ketiga, Hari Santri merupakan bentuk rekonstruksi makna jihad. Dalam resolusi jihad, jihad tidak dimaknai semata-mata membela Islam. Di sini jihad dimaknai sebagai upaya membela tanah air. Dengan kata lain, membela NKRI adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Sikap ini secara tegas dinyatakan oleh Mbah Hasyim ketika menjawab utusan Panglima Soedirman yang bertanya, bagaimana hukum membela tanah air? Oleh sang utusan pertanyaan ini kemudian tegaskan, “membela tanah air bukan membela Islam”.
Atas pertanyaan ini  dengan tegas Mbah Hasyim menjawab: “membela tanah air hukumnya wajib, dan menjadi bagian dari jihad fi sabilillah”. Hal ini juga disampaikan Mbah Hasyim kepada Bung Karno yang datang  menghadap beliau di Tebuireng menjelang peristiwa 10 November. Sayangnya data-data seperti ini tidak tergali oleh para sejarawan modern.
Penafsiran makna jihad Mbah Hasyim yang mewajibkan jihad membela NKRI ini jelas tidak sesuai dengan pemahaman jihad kaum Islamis jihadis yang justru ingin menghancurkan NKRI karena dianggap sebagai negara kafir dan thoghut.
Bagi kelompok Islamis jihadis, Hari Santri juga dianggap sebagai pemutarbalikan makna jihad, bagi mereka jihad bukan membela NKRI sebagaimana digelorakan kaum santri saat membela NKRI. Inilah yang membuat mereka berusaha mengganggu perayaan Hari Santri karena dianggap menjadi penghalang perjuangan mereka menegakkan negara Islam di Indonesia.
Berbagai makna tersebut menunjukkan bahwa Hari Santri bukan semata hadiah untuk sekelompok orang atau menonjolkan peran sejarah kaum santri saja. Apalagi membesar besarkan masalah kecil yang tidak penting bagi sejarah bangsa sebagaimana dituduhkan oleh Mu’arif. Ada makna sangat penting dan strategis di balik Hari Santri terkait dengan hubungan Islam dan kebangsaan serta makna jihad dalam konteks kebangsaan.
Andai saja sejarah secara jujur menulis peran kaum santri dalam sejarah perjuangan bangsa mungkin benturan antara Islam dan nasionalisme bisa dicegah sejak dini. Karena bagi kaum santri hibungan antara keduanya audah selesai. Bagi santri cinta NKRI bukan semata slogan politis, tetapi telah menjadi bagian pemahaman keislaman yang menyatu dalam diri (embedded).
Jelas di sini terlihat kelompok mana yang sebenarnya terancam dan tidak suka dengan keberadaan Hari Santri yaitu mereka yang terganggu perjuangan dan agendanya mengubah NKRI dan ingin mengganti ideologi negara Pamcasila. Atau mereka yang tidak paham makna dan spirit yang ada di balik Hari Santri, sehingga hanya memaknainya secara politis, meski kadang dibungkus dengan simbol agama dan logika akademik.
#muslimsejati
Sumber : //www.nu.or.id/post/read/98221/santri-menjaga-indonesia-dari-gerakan-kaum-islamis-jihadis
Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here